Wisata Alam berbasis Komunitas: Wisata Alam Tangkahan dan Kalibiru

Potretsumatera(instagram.com)

Bangmamad.com - Pariwisata tidak hanya mengedepankan pengalaman, kebersihan, kesehatan, juga keberlanjutan ekosistem alam tempat wisata. 

Bagi dunia wisata alam, hal ini merupakan tugas para pelaku usaha, mulai dari tur operator, pekerja, hingga masyarakat sekitarnya, sehingga tempat wisata alam dapat lestari. 

Dalam diskusi online yang diadakan Koperasi Sentra Wisata Alam Nusantara (Kopi Setara), Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno mengatakan, perlu adanya kerjasama untuk tetap menjaga pariwisata yang berkelanjutan dengan berasaskan komunitas atau community based ecotourism. 

Jejakaki (instagram.com)

Ia mencontohkan para pelaku usaha wisata alam dapat belajar dari apa yang telah dilakukan tempat wisata di Tangkahan dan Kalibiru.

Tangkahan, lanjut Wiratno, merupakan salah satu contoh community based ecotourism. Dulu, kawasan tersebut dipenuhi oleh penebang liar. 

Namun kini berbeda. Mereka, lanjut Wiratno, sadar untuk "menjual" hutan tanpa menebang. Kerja keras pun tidak akan mengkhianati hasil. 

jejakaki (instagram.com)

"Turisnya (kini) sudah mencapai 5.000 orang. Mereka betul-betul community based," kata Wiratno saat video conference, Rabu (6/5/2020). 

Lanjutnya, wisata Tangkahan dikelola oleh lembaga pariwisata Tangkahan, Sumatera Utara yang merupakan lembaga lokal.

Wisata ini "menjual" alam, juga menerapkan ekowisata. Baca juga: Cegah Corona, 16 Taman Nasional dan Wisata Alam di Indonesia Tutup Wiratno mengatakan, wisatawan diperbolehkan ikut berpatroli menjaga alam bersama gajah di sana. 

Namun yang terpenting adalah bagaimana gajah Tangkahan dapat tetap sehat, masyarakat bermanfaat, dan hutannya aman. 

Tangkahan juga mampu mengumpulkan pendapatan dari pariwisata sebesar Rp 7 miliar hingga Rp 10 miliar per tahunnya.

Wiratno juga mencontohkan satu tempat wisata lainnya yang menerapkan ekowisata yaitu Kalibiru, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

"Kalibiru saya sebut sebagai selfie tourism. Ini sebetulnya hutan kemasyarakatan di Kulon Progo," ujar Wiratno.

"Tempat wisata ini dikelola langsung oleh desa, sehingga menjadi desa wisata. Pendapatannya pun hingga Rp 5 miliar per tahun," lanjutnya. 

@juy_indri from instagram.com

Contoh lainnya adalah Desa Jatimulyo, masih di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Wiratno menjelaskan, penduduk setempat memiliki kesadaran akan keberlanjutan alam meski ramai dikunjungi wisatawan.

"Penduduk desanya menerapkan kebijakan bahwa orang tidak boleh berburu burung. Dua tahun berlalu, desa ini jadi desa wisata yang menjadi daya tarik wisatawan yaitu melihat burung," jelasnya. 

Selain itu, ia juga mencontohkan bagaimana penduduk kampung Saporkren, Sorong, Papua yang melestarikan burung Cenderawasih hingga menjadi surga habitatnya. 

Berkaca dari Tangkahan, Kalibiru hingga Sorong--Wiratno berharap potensi wisata alam lain di Indonesia juga bisa dinikmati oleh komunitas, bukan kelompok tertentu. 

Oleh karena itu, Wiratno menyambut baik dukungan dari Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk turut mendorong ecotourism berbasis komunitas. "Saya menyambut antusias tawaran dari Menteri Koperasi. 

Saya kira nanti kita akan buat agenda bersama untuk desa wisata agar lebih mendorong pendampingan entrepreneurship. Isi kontennya nanti dari Kemenpar, dan kita dari proses perizinannya. Saya kira Kementerian Desa juga bisa terlibat," jelasnya. 



Hal ini agar bisa menerapkan konsep ecotourism yang merata.

Sementara itu, Kemenparekraf, melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Frans Teguh mengaku sependapat dengan Wiratno.  

Menurutnya, ekowisata berbasis komunitas sangat penting bagi dunia pariwisata karena termasuk dalam daya pikat wisatawan. 

"Saya kira untuk jasa lingkungan daripada wisata ini, semua spot wisata alam di Indonesia pasti punya daya tarik," kata Frans. "Ini yang harus dijaga, dirawat agar bisa jadi kekuatan. Ini keunggulan komparatif yang tidak ada duanya dibandingkan tempat lain," lanjutnya. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com 

Post a Comment for "Wisata Alam berbasis Komunitas: Wisata Alam Tangkahan dan Kalibiru"

Berlangganan via Email