Referensi Liburan Pasca Corona: Desa Edensor, Desa Menawan Inspirasi Andrea Hirata

Keindahan Desa Edensor Serasa di Negeri Dongeng (foto: IDN times)

BM News
- Mengunjungi Desa Edensor, yang terkenal sebagai judul ketiga tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sesuai novel itu, desa di lereng bukit Derbyshire, Inggris, ini memang cantik dan menawan.

Di minggu pertama bulan Mei 2011 lalu, aku dan suami sengaja membuat rencana untuk menghabiskan libur panjang di Edensor. Kebetulan, hari Senin di awal Mei adalah hari libur nasional di Negara Inggris.

Lewat layanan internet, kami memesan kamar di sebuah penginapan,tak jauh dari desa tersebut. Kami juga sudah mempelajari peta, wilayah, arah, serta beberapa tempat wisata yang akan kami kunjungi. Hal yang biasa kami lakukan sebenarnya, karena kami berdua sering bepergian.

Setelah semua siap, mobil kami meluncur membelah udara di Sabtu pagi nan cerah. Perjalanan dari kota kami, Cambridge, menuju Edensor tak memakan waktu lama. Dua setengah jam kemudian, pemandangan jalan tol yang membosankan mulai diganti oleh hamparan padang rumput hijau muda. Warna khas rumput yang menyambut datangnya musim semi.

Tak lama setelah keluar dari jalan tol, mobil kami mulai menyusuri punggungan bukit-bukit di kawasan Derbyshire. Warna-warni sekitar sangat elok dan rupawan. Permadani hijau menyelimuti permukaan bukit yang tak terlalu tinggi, dihiasi titik-titik putih di kejauhan. Titik-titik putih itu tak lain adalah kawanan domba Derbyshire yang sedang asyik merumput.

Rumput Hijau Membentang dan Tepian Sungai, Damaikan Hati di Tepinya (foto: IDN Times)

Andrea Hirata tidak bohong, tempat ini memang sangat memesona. Biasanya, aku lebih memilih untuk menjadi pengemudi mobilnya ketika dalam perjalanan. Kantuk dan bosan selalu menyergapku ketika bepergian ke berbagai tempat. Tapi, kali ini, aku merasa nyaman sebagai penumpang. Aku bisa leluasa melihat sekitar, ke arah bukit-bukit hijaubak permadani itu.

Sampailah kami ke penginapan yang telah di-booked beberapa saat sebelumnya. Pemilik penginapan menyambut di pintu depan, ditemani seekor kucing gendut berbulu kecoklatan yang lucu dan ramah. Aku pun jadi sibuk bermain dengan kucingnya di sela-sela percakapan dengan tuan rumah.

Setelah membongkar koper kecil kami (yang hanya berisi pakaian untuk satu kali ganti, karena kami akan tinggal selama dua hari), tujuan pertama kami adalah Chatworth House. Letaknya persis di depan Desa Edensor.

Menurut selebaran dan brosur gratis yang kami dapat di tempat ini, pemilik Chatworth House inilah yang dulu mendirikan Desa Edensor. Namun, desa ini dulu didesain sebagai tempat tinggal para pekerja kebun, tukang asuh kuda, serta pelayan rumah tangga bagi para bangsawan yang tinggal di Chatworth.

Setelah membayar tiket masuk, kami memasuki area ini. Chatworth House memiliki ukuran yang sangat besar, khas rumah-rumah bangsawan Inggris di masa lampau. Lengkap dengan halaman, koleksi perabotan dan lukisan, serta peninggalan orisinil barang-barang pribadi milik si tuan tumah.

Namun, yang membuatku lebih terpana adalah bagian belakang rumahnya. Terdapat halaman yang sangat luas, berhiaskan air terjun buatan! Air terjun buatan ini dibangun di punggung bukit. Airnya dipompa dari danau yang letaknya tak jauh dari rumah megah ini.

Air hasil pompa tersebut dialirkan ke kolam di atas bukit. Dari kolam ini, air mulai menuruni punggung bukit, pasrah pada gravitasi bumi, melewati susunan tangga yang terbuat dari semen .  Kolam di bawahnya hanya sebatas mata kaki, sehingga para pengunjung  bisa bermain air di sini. Air terjun ini adalah pemandangan yang luar biasa!

Dari atas bukitnya, sejauh mata memandang terpampang panorama yang memanjakan mata. Hijau, segar, dan bersih. Dari atas bukit ini pula, terlihat Gereja St Peter yang menjadi ikon Desa Edensor. Indahnya tak tertandingi. Bahkan, Andrea Hirata pun tak lupa menyelipkan satu foto hitam-putih di bukunya yang memperlihatkan pemandangan ini.

Titik-titik putih yang tadi kulihat di perjalanan kini menjelma menjadi domba-domba sehat dan riang. Mereka tampak ramah saja pada pengunjung, dan tak merasa terusik dengan kehadiran kami. Beberapa anak domba bermain dan melompat riang, yang lain tidur bermalas-malasan di bawah pohon rindang.

Menjelang sore, iring-iringan mobil wisatawan tak kunjung berkurang di akhir pekan yang panjang ini. Kami pun meninggalkan Chatworth House dan melangkahkan kaki di jalanan desa yang tak terlalu luas ini.

Andrea Hirata Tidak Bohong Mengenai Keindahan Edensor Seperti dalam Novelnya "Edensor" (foto: IDN Times)

Satu hal unik yang kutemui dari pedesaan di Britania Raya adalah adanya pintu gerbang untuk memasuki kawasan desa. Meski pintunya selalu terbuka, tanpa kunci pula, gerbang ini membuat saya serasa memasuki kawasan tertutup yang boleh dimasuki tanpa izin penghuninya.

Namun rupanya, pintu ini didesain untuk menghentikan hewan peliharaan seperti domba dan sapi agar tidak memasuki kawasan pemukiman. Untuk masuk ke desanya, kami harus melewati pagar besi yang sepintas mirip jeruji penjara. Namun, lebih besar dan berukuran sekitar 4x5 meter persegi.

Jeruji ini diletakkan di tanah yang sudah digali tak terlalu dalam. Serunya, inilah yang akan menghentikan langkah para hewan ketika memasuki kawasan desa karena kaki mereka akan terperangkap di dalamnya. Biasanya, hewan-hewan ini akan mundur lalu melenggang pergi saat mendapati kenyataan bahwa mereka tak mungkin melewati rintangan ini.

Di beberapa pedesaan Inggris, jeruji semacam ini banyak ditemui di jalanan menuju peternakan. Namun, Edensor mungkin jadi satu-satunya desa yang terisolasi oleh jeruji ini.

Siapa pun yang memasuki desa ini akan merasa damai, teduh, dan tenang. Menara tinggi Gereja St Peter seolah mengucapkan selamat datang, berdiri gagah di depan gerbang desa, meski  terlihat letih karena usia. Beberapa rumah mungil bekas dihuni oleh para pelayan Chatworth tampak sepi, namun hingga sekarang masih tertata rapi walaupun usianya terlihat tua.

Konsep arsitektur rumah-rumah itu mirip dengan rumah induknya, yaitu Chatworth House. Sekilas, aku merasa sedang berada di negeri dongeng. Bangunan-bangunan mungil ini terbuat dari batu alam, dengan menara kecil di sudut rumah dan bingkai jendela serupa rumah-rumah di buku cerita.

Tak ada rumah baru di sini. Mungkin karena memang dijaga keasliannya. Pelataran rumahnya tampak rapi dengan bunga warna-warni. Beberapa halaman ditumbuhi juga oleh tanaman buah khas negeri ini.


Masuk lebih jauh ke dalam desa, jalanan semakin menanjak seperti naik ke punggung bukit. Tak berapa lama, tiba-tiba kami sudah berada di ujung Edensor! Mungkin inilah yang membuat Andrea Hirata terpacu semangatnya untuk mewujudkan cita-cita semasa kecil. Ia harus datang dan melihat keindahan desa mungil ini dengan mata kepalanya sendiri.

Motivasinya itu mulai tumbuh ketika ia mendapati keindahan Edensor dalam buku karya James Herriot, pengarang terkenal asal Inggris. Buku itu menceritakan kehidupan peternak dan petani yang ada di desa perbukitan Derbyshire ini.


Sebelum meninggalkan kawasan Derbyshire keesokan harinya, kami menyempatkan diri untuk duduk di atas bukit seberang desa. Menikmati keindahan Edensor dari jauh, ditemani beberapa rusa jinak yang merumput sambil mengitari kami.

Artikel ini repost dari: travel.detik

Post a Comment for "Referensi Liburan Pasca Corona: Desa Edensor, Desa Menawan Inspirasi Andrea Hirata"

Berlangganan via Email