Masih Tanda Tanya dengan Definisi Baru Kematian Akibat Corona

Ilustrasi Virus corona
Bangmamad.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperluas definisi 'kematian COVID-19'. Pasien yang meninggal dunia dengan gejala klinis penyakit akibat virus Corona juga mesti dilaporkan sebagai korban pandemi. Pemerintah pusat angkat bicara soal hal tersebut.

Definisi terbaru mengenai 'kematian COVID-19' itu tertulis dalam laporan perkembangan COVID-19 Nomor 82 (Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) situation report-82), tertanggal 11 April 2020. Suatu kasus digolongkan sebagai 'kematian COVID-19' apabila tak ada periode sembuh total antara waktu sakit dan waktu kematian.

Dalam definisi baru mengenai 'kematian COVID-19' ini, ada istilah kematian dari 'probable case (kasus yang mungkin COVID-19)'. Bila ada seseorang yang menyandang 'probable case' itu meninggal, maka kini kematian orang itu dihitung sebagai 'kematian COVID-19'.

Dalam keterangan yang sama, 'probable case' didefinisikan sebagai:
a. Kasus suspek (terduga) dengan hasil tes yang inkonklusif (tidak meyakinkan), hasil inkonklusif dari tes itu dilaporkan oleh laboratorium, atau
b. Kasus suspek dengan tes yang tidak dapat dilakukan dengan alasan apapun

Adapun istilah 'confirmed case (kasus terkonfirmasi)' dalam bahasa Indonesia setara dengan istilah 'kasus positif COVID-19'.


"WHO telah mengembangkan definisi berikut untuk melaporkan kematian COVID: kematian COVID-19 yang didefinisikan untuk kepentingan pengawasan adalah kematian akibat penyakit yang kompatibel (cocok) secara klinis dalam suatu kasus yang mungkin COVID-19 atau kasus yang terkonfirmasi sebagai COVID-19," tulis WHO, dikutip detikcom dari situs resminya, Jumat (1/5/2020).

Kematian seseorang tidak perlu disebut sebagai kematian COVID-19 apabila ada penyebab lain yang jelas tak ada kaitannya dengan COVID-19.

Menanggapi itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menyebut form laporan kematian dari WHO masih sama seperti sebelumnya. Namun Yuri--panggilan karibnya--akan menanyakan lebih lanjut perihal itu.

"Form laporan WHO masih belum berubah, tetap konfirmasi positif," kata Yuri kepada detikcom, Jumat (1/5).

Yuri masih akan berkonsultasi dengan WHO Indonesia perihal form laporan kematian. Yuri belum menjelaskan kapan konsultasi dengan WHO Indonesia soal data kasus PDP meninggal sebagai angka kematian resmi virus Corona selesai.

"Saya sedang konsulkan ke WHO Indonesia," kata Yuri.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengaku sudah sosialisasikan definisi itu ke seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Arahan baru dari WHO ini memiliki artian kematian bukan saja yang positif melalui tes PCR. Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang meninggal juga disebut akibat pandemi.


"Kami sudah menyampaikan arahan seperti yang ditetapkan oleh WHO. Jadi, sudah lebih dulu dilaksanakan. Tadinya untuk memberikan rasa aman dan memutus mata rantai penularan dari jenazah konfirmasi COVID-19 maupun yang suspek COVID-19," kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Berli Hamdani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/5).

Untuk data meninggal karena suspek, menurut Berli, sudah masuk pada laman pusat informasi dan koordinasi COVID-19 Jabar (Pikobar). "Kalau data PDP yang meninggal, sebagian sudah masuk ke Pikobar, baik sebagai data konfirmasi positif maupun meninggal positif COVID-19," katanya.

Berli menambahkan proses pemulasaraan jenazah di tiap rumah sakit juga sudah mengedepankan protokol penanganan COVID-19, baik terhadap jenazah positif dan suspek. Hal ini sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan dan WHO.(Detik)

Post a Comment for "Masih Tanda Tanya dengan Definisi Baru Kematian Akibat Corona"

Berlangganan via Email