Imbas Pandemik Corona, Peternak Jual Murah Ayam-Ayam Mereka Karena Takut Rugi


BM News - Sudah sebulan terakhir ini banyak peternak menjual ayam dengan harga murah. Bukan ayam afkir atau sakit, tapi ayam-ayam sehat. Hal ini terpaksa dilakukan demi menyelamatkan diri dari kerugian yang makin besar.

Sejak wabah corona kami tidak bisa menjual semua ayam, daya beli masyarakat turun hingga 50 persen. Terpaksa kita lepas (jual) harga murah daripada semakin rugi," jelas Heri Haha, peternak ayam warga Nguter, Sukoharjo, Rabu (22/4).

Pedagang lebih memilih menjual murah ayam-ayam mereka dari pada rugi nantinya

 Akibat pandemik corona ini banyak pelanggannya yang mengurangi jumlah pembelian. Selain itu pengiriman ke luar kota juga lebih sulit, karena sejumlah kota melakukan pembatasan arus masuk.

Ditambahkan Heri, dia punya lima kandang dengan kapasitas 10 ribu ekor ayam tiap kandangnya. Saat ini terpaksa sebagian kandang dia panen sebelum waktunya. "Kalau biasanya panen 40 hari sekali, kemarin usia 30 hari sudah panen, karena biaya pakan dan pengeluaran membengkak," imbuhnya. 


Alhasil, kalau harga normal ayam dijual Rp 16 ribu/kg, kini hanya dijual Rp 9-10 ribu/kg saja. Diakui Heri, sekitar 80 persen peternak di Sukoharjo ikut program kemitraan dengan perusahaan. Namun bukan tanpa rugi, karena biaya pakan juga membebani. "Sampai saat ini saya belum merumahkan karyawan, meski kerugian mencapai 40 persen, semoga keadaan segera membaik," tandasnya. 

Terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar),  Singgih Januratmoko, membenarkan soal keterpurukan sejumlah petani dan peternak akibat pandemik Covid-19. "Tidak hanya peternak, petani dan nelayan yang terimbas. Tapi multiplyer efek, pedagang pasar, warung makan hingga restoran juga merugi. Khusus untuk perdagangan ayam memang lebih terasa, kerugian mereka mencapai 50 persen," kata Singgih. (rmol)

Berlangganan via Email