Beginilah Tradisi Mesir Menyambut Rukyatul Hilal Ramadhan

Bangmamad.com - Lain negara lain pula tradisinya dalam menyambut bulan puasa. Contohnya di Indonesia, sebelum digelar sholat Tarawih, Muslim akan ziarah ke makam kerabat, sementara ulama dan umara memantau hilal Ramadhan untuk kemudian menggelar sidang isbat.

Ilustrasi Pengamatan Hilal
Tradisi ini berbeda dengan di Mesir, mereka punya kebiasaan sendiri dalam proses pemantauan hingga perayaan hilal Ramadhan. Rukyatul hilal alias menyaksikan penampakan bulan muda yang menandai awal bulan dalam kalender Islam atau hijriah, diikuti dengan penuh cita di sana..

Di Mesir, malam penampakan bulan disebut dengan malam Roaya, kemungkinan berasal dari kata ru’yat, menandai malam terakhir bulan Sya’ban dan awal Ramadhan, di mana umat Muslim melakukan puasa besok harinya.

Mesir merupakan salah satu negara yang punya tradisi merayakan penampakan bulan di hari pertama Ramadhan. Dikutip dari laman JATMAN yang melansir dailynewssegypt, tradisi ini sudah ada sejak kekhalifahan Fathimiyyah.


Konon, awalnya seorang wazir militer Fathimiyyah di bawah kekhalifahan al-Muntasir bernama Badr al-Jamali membangun masjid di kaki Gunung Mokattam, sebelah tenggara Kairo. Masjid selesai dibangun sekitar 1085 Masehi.

Menara Masjid Jamie al-Juyushi atau masjid tentara itu, sekaligus dijadikannya semacam observatorium untuk melihat bulan sabit.

Perayaan bulan pertama Ramadhan dilakukan dengan cara khalifah dan para menterinya berkeliling kota menunggang kuda melewati jalan-jalan yang penuh dengan dekorasi, pertokoan, dari mulai Gamaliya ke Bab al-Futuh (Conquest Gate), kemudian ke Bab el-Nasr (Gerbang Kemenangan) lalu ke Gamaliya lagi.

Gerbang-gerbang itu merupakan bagian dari benteng yang dulu dibangun oleh Wazir Badr al-Jamali.

Bab al-Futuh, Kairo:

Selama berkeliling, rombongan membagikan berbagai macam hadiah dan sedekah untuk keluarga miskin. Setelah itu, Khalifah menulis surat kepada para gubernur untuk mengumumkan datangnya bulan suci.

Di era kekhalifahan Mamluk, perayaan dilakukan dengan berangkatnya lima hakim untuk melihat bulan sabit atau hilal dengan membawa lentera dan lilin. Para saudagar dan pemimpin dari berbagai komunitas, profesi, berkumpul di mercusuar Al-Mansour School.

Ketika hilal Ramadhan terlihat, para hakim itu mengumumkan awal bulan puasa, dan para peserta yang hadir pun menyampaikan pengumuman itu kepada masyarakat lainnya. Tradisi ini terus bertahan hingga kekhalifahan Ottoman.


Penulis Barat, Edward William Lane menggambarkan bahwa malam pertama Ramadan adalah perayaan keagamaan yang paling indah bagi orang Mesir karena mereka sangat mencintai bulan itu.

“Pada malam ini, para pengrajin, termasuk penggiling, tukang roti, tukang daging, penjual makanan, kelompok musisi dan masyarakat, semua berbaris ke arah istana, di mana para hakim akan mengumumkan penampakan bulan baru, setelah itu perayaan besar dimulai. Mereka berbaris di jalan-jalan dan menembakkan meriam,” tulis Lane.

Di bawah Pemerintahan Sultan Abbas Hilmi, pada awal abad ke-20 perayaan dipindahkan ke Pengadilan Islam di Bab El-Khalk. Perayaan dimulai dengan pagelaran musik, lalu meriam menembak dari istana menerangi langit Kairo yang gelap.

Orang Mesir masih melanjutkan tradisi perayaan tersebut setiap tahun hingga sekarang. Dalam perayaan, para ulama Al-Azhar, perwakilan kementerian, tokoh-tokoh Mesir, dan duta besar komunitas Muslim di seluruh dunia yang tinggal di Mesir, berkumpul untuk melakukan tradisi rukyatul hilal pada 29 Syaban.

Mufti Besar Mesir mengkonfirmasi tentang dimulai atau tidaknya bulan Ramadhan hari itu, lalu beritanya menyebar ke seluruh Mesir lewat radio, televisi, dan media lainnya.

Untuk diketahui, lembaga bernama Darul Ifta di Mesir selalu melakukan tugas pengamatan bulan setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Syaban. Pengamatan tersebut dilakukan melalui komite yang sah dan ilmiah yang tersebar di seluruh negeri. Mereka telah terakreditasi selama hampir 100 tahun di Helwan Astronomical Observatory.(okezone.com)

Berlangganan via Email